BRAZILIAN JIU JITSU
Brazilian Jiu Jitsu (BJJ) adalah salah satu aliran beladiri yang
berfokus pada pertarungan bawah seperti teknik kuncian, pergulatan dan
teknik menjatuhkan lawan (take down). Beladiri ini cocok digunakan untuk
pertarungan satu lawan satu, Anda tidak bisa menang dengan menggunakan
teknik brazilian Jiu Jitsu jika kondisi Anda dikepung / dikeroyok oleh
beberapa orang. Beladiri ini dipopulerkan oleh keluarga Gracie dari
Brasil. Beladiri ini juga dipopulerkan oleh Royce Gracie, salah satu
petarung di Ultimate Fighting Championship (UFC). Royce Gracie
memenangkan beberapa gelar bergengsi di UFC, hal ini turut mendongkrak
popularitas beladiri BJJ. Royce Gracie pernah mengalahkan tiga lawan
yang berbeda dalam
satu malam dalam turnamen UFC, benar-benar suatu prestasi yang
menakjubkan.
Royce Gracie |
Brazilian Jiu-Jistu juga memberikan konsep bahwa orang dengan fisik yang
lemah atau kecil dapat mengalahkan orang dengan fisik yang lebih besar
dan kuat dengan menggunakan teknik pergulatan dan kuncian yang tepat.
Untuk itu bagi yang merasa memiliki fisik yang lemah jangan patah
semangat terlebih dulu.
Beladiri Jiu Jitsu sendiri berakar dari negara Jepang. Teknik Jiu-Jitsu
sebenarnya sudah ada sejak jaman kuno yaitu sekitar lebih dari dua abad
sebelum Masehi (230 tahun SM). Teknik Jiu-Jitsu ini dulunya dipakai oleh
para Prajurit/Ksatria Samurai (Samurai Warriors) di Jepang. Kata "Jiu"
atau "Ju" dapat diartikan sebagai kelenturan atau fleksibel. Sedangkan
kata "Jitsu" atau "Jutsu" berarti teknik, cara atau metode. Berarti
Jiu-Jitsu adalah suatu bela diri yang bersifat fleksibel, ada kalanya
lunak ada kalanya keras, ada teknik jarak dekat ada pula jarak jauh, ada
teknik mengikuti arus ada pula yang melawan arus. Teknik-teknik
Jiujutsu pada garis besarnya terdiri atas atemi waza (menyerang bagian
yang lemah dari tubuh lawan), kansetsu waza/gyakudori (mengunci
persendian lawan) dan nage waza (menjatuhkan lawan).
Sedangkan untuk Brazilian Jiu-Jistu sendiri dimulai ketika Mitsuyo Maeda mulai menetap di Brasil dan bertemu dengan seorang pengusaha yang cukup berpengaruh di Brasil, Gastão Gracie, yaitu ayah dari Carlos Gracie dan Hélio Gracie. Mitsuyo Maeda (1878-1941) sering disebut juga sebagai Conde Coma adalah seorang yang berbakat dalam seni bela diri Judo dan Jiu-Jitsu. Selama di Brasil, Maeda banyak menerima bantuan dari Gastão termasuk dalam hal memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Untuk menunjukkan rasa terima kasih, Maeda menawarkan untuk mengajar seni bela diri tradisional Jepang pada anak tertua Gastão yaitu Carlos Gracie. Pada tahun 1916, Carlos mulai belajar Jiu-Jitsu (asli Jepang) dari Maeda selama beberapa tahun. Pada tahun 1925, Carlos selesai belajar Jiu-Jitsu dari Maeda dan mulai mengajarkan apa yang dia dapat ke adik-adiknya.
Sedangkan untuk Brazilian Jiu-Jistu sendiri dimulai ketika Mitsuyo Maeda mulai menetap di Brasil dan bertemu dengan seorang pengusaha yang cukup berpengaruh di Brasil, Gastão Gracie, yaitu ayah dari Carlos Gracie dan Hélio Gracie. Mitsuyo Maeda (1878-1941) sering disebut juga sebagai Conde Coma adalah seorang yang berbakat dalam seni bela diri Judo dan Jiu-Jitsu. Selama di Brasil, Maeda banyak menerima bantuan dari Gastão termasuk dalam hal memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Untuk menunjukkan rasa terima kasih, Maeda menawarkan untuk mengajar seni bela diri tradisional Jepang pada anak tertua Gastão yaitu Carlos Gracie. Pada tahun 1916, Carlos mulai belajar Jiu-Jitsu (asli Jepang) dari Maeda selama beberapa tahun. Pada tahun 1925, Carlos selesai belajar Jiu-Jitsu dari Maeda dan mulai mengajarkan apa yang dia dapat ke adik-adiknya.
Gracie Family |
Pasangan Gastão Gracie dan Cesalina Gracie memiliki 8 orang anak, 3
diantaranya perempuan dan 5 anak laki-laki termasuk Carlos (tertua) dan
Helio (bungsu). Helio Gracie adalah anak bungsu yang paling lemah secara
fisik dibandingkan ketujuh saudaranya. Pada usia 14 tahun, Helio ikut
pindah bersama saudara-saudaranya yang pada saat itu Carlos telah
menguasai ilmu bela diri Jiu-Jitsu. Helio tidak pernah menerima
pengajaran Jiu-Jitsu secara langsung dari kakaknya, ia hanya bisa
menonton ketika saudara-saudaranya mengajar Jiu-Jitsu di sebuah rumah di
Botafogo di Rio de Janeiro. Hal ini karena dokter telah
merekomendasikan Helio untuk tidak ikut dalam kegiatan seni bela diri
setidaknya selama beberapa tahun. Suatu hari, ketika Helio berusia 16
tahun ada siswa yang muncul di kelas bela diri tapi kakaknya, Carlos
ketika itu tidak ada di tempat. Helio yang mempelajari Jiu-Jitsu dengan
cara menghafal semua teknik ketika menonton kakaknya mengajar menawarkan
diri untuk memulai kelas. Ketika kelas berakhir, Carlos muncul dan
meminta maaf atas keterlambatannya. Siswa itu menjawab, "Tidak masalah,
saya menikmati kelas dengan Helio dan jika Anda tidak keberatan, saya
ingin terus belajar dengan dia..." Carlos setuju dan Helio sejak saat
itu menjadi instruktur.
Helio segera menyadari dengan keadaan tubuhnya yang lemah, semua teknik yang ia pelajari saat menyaksikan kakaknya mengajar tidak bisa diterapkan dan dieksekusi dengan baik. Helio kemudian mulai memodifikasi teknik Jiu-Jitsu untuk mengakomodasi tubuhnya yang lemah. Ia menekankan pada kecepatan serangan dan mulai memodifikasi hampir semua teknik Jiu-Jitsu, melalui trial dan error, Helio mulai mencpitakan apa yang disebut Gracie/Brazilian Jiu-Jitsu. Untuk membuktikan efektivitas sistem baru, Helio secara terbuka menantang semua seniman bela diri terkemuka di Brasil. Dia bertarung 18 kali, termasuk pertandingan melawan mantan juara dunia gulat kelas berat, Wladek Zbyszko dan Judoka peringkat 2 di dunia pada saat itu, Kato. Helio berhasil mengalahkan mereka dan kemenangan melawan Kato membuat Helio berada pada tingkatan berbeda dan beberapa langkah lagi dia akan meraih gelar juara dunia. 23 Oktober 1951, Helio bertarung melawan Masahiko Kimura, petarung Jiu-Jitsu terbaik di Jepang yang memiliki berat badan sebanding dengan Helio yaitu sekitar 80 pound. Kimura memenangkan pertandingan tapi ia mengaku sangat terkesan dengan teknik yang dimiliki Helio. Selanjutnya, Kimura meminta Helio untuk pergi mengajar di Jepang. Ia mengklaim, teknik yang disajikan Helio saat pertarungan tidak pernah diajarkan di Jepang.
Helio adalah ikon penting bagi Jiu-Jitsu Brasil (Brazilian Jiu-Jitsu) dan dia adalah lambang keberanian, disiplin, tekad dan insipirasi bagi semua orang. Helio Gracie menjadi bagian dari legenda modern yang mendapat pujian internasional atas dedikasinya untuk penyebaran seni bela diri dan diakui sebagai pencipta Gracie/ Brazilian Jiu-Jitsu.
Helio segera menyadari dengan keadaan tubuhnya yang lemah, semua teknik yang ia pelajari saat menyaksikan kakaknya mengajar tidak bisa diterapkan dan dieksekusi dengan baik. Helio kemudian mulai memodifikasi teknik Jiu-Jitsu untuk mengakomodasi tubuhnya yang lemah. Ia menekankan pada kecepatan serangan dan mulai memodifikasi hampir semua teknik Jiu-Jitsu, melalui trial dan error, Helio mulai mencpitakan apa yang disebut Gracie/Brazilian Jiu-Jitsu. Untuk membuktikan efektivitas sistem baru, Helio secara terbuka menantang semua seniman bela diri terkemuka di Brasil. Dia bertarung 18 kali, termasuk pertandingan melawan mantan juara dunia gulat kelas berat, Wladek Zbyszko dan Judoka peringkat 2 di dunia pada saat itu, Kato. Helio berhasil mengalahkan mereka dan kemenangan melawan Kato membuat Helio berada pada tingkatan berbeda dan beberapa langkah lagi dia akan meraih gelar juara dunia. 23 Oktober 1951, Helio bertarung melawan Masahiko Kimura, petarung Jiu-Jitsu terbaik di Jepang yang memiliki berat badan sebanding dengan Helio yaitu sekitar 80 pound. Kimura memenangkan pertandingan tapi ia mengaku sangat terkesan dengan teknik yang dimiliki Helio. Selanjutnya, Kimura meminta Helio untuk pergi mengajar di Jepang. Ia mengklaim, teknik yang disajikan Helio saat pertarungan tidak pernah diajarkan di Jepang.
Helio adalah ikon penting bagi Jiu-Jitsu Brasil (Brazilian Jiu-Jitsu) dan dia adalah lambang keberanian, disiplin, tekad dan insipirasi bagi semua orang. Helio Gracie menjadi bagian dari legenda modern yang mendapat pujian internasional atas dedikasinya untuk penyebaran seni bela diri dan diakui sebagai pencipta Gracie/ Brazilian Jiu-Jitsu.
Beladiri ini terbukti efektif digunakan untuk pertarungan satu lawan
satu. Bahkan semua petarung atau atlet di UFC atau MMA sudah mulai sadar
dan mulai mempelajari beladiri ini untuk melengkapi teknik
pertarungannya. Bahkan sebagian besar yang menjuarai UFC adalah petarung
dengan basic beladiri BJJ atau yang sangat menguasai beladiri BJJ.
Pertarungan ini juga efektif untuk membela diri dari berbagai tindak
kejahatan. Terutama bagi kaum wanita, beladiri ini sangat penting dan
bisa digunakan untuk membela diri dari serangan pemerkosaan. Karena
sebagian besar tekniknya adalah teknik pergulatan dan perkelahian bawah
atau lantai (ground fighting). Oleh karena itu beladiri ini juga cocok
dan direkomendasikan bagi kaum wanita.
Sumber : http://www.nobunagashop.com/2016/06/sejarah-brazilian-jiu-jitsu-bjj.html
NAMA : Ebet Tri Cahyanu
NIM : 57401.15.023
Mata Kuliah : Komunikasi Data
0 komentar:
Posting Komentar